Berita

Askab PSSI Morut Perkuat Pembinaan dan Kompetisi Sepak Bola Daerah

×

Askab PSSI Morut Perkuat Pembinaan dan Kompetisi Sepak Bola Daerah

Sebarkan artikel ini
askab-pssi-morut-perkuat-pembinaan-dan-kompetisi-sepak-bola-daerah
Ketua Askab PSSI Morowal Utara IM Arief Ibrahim menghadiri Rapat Kerja (Raker) untuk membahas program pengembangan sepak bola daerah tahun 2025-2026 bertempat di Caffe Momoiko Kolonodale, Minggu (23/11/2025). (Foto: Pusaran.id)

MORUTAsosiasi Kabupaten PSSI Morowali Utara (Askab PSSI Morut) menggelar Rapat Kerja (Raker) untuk membahas program pengembangan sepak bola daerah tahun 2025-2026, Minggu (23/11/2025).

Kegiatan yang dihadiri pengurus provinsi, pengurus kabupaten, exco, komite, serta perwakilan dari seluruh kecamatan itu berlangsung dengan antusiasme tinggi dan menghasilkan sejumlah rencana strategis untuk memperkuat pembinaan, kompetisi, serta fondasi organisasi.

Rapat dibuka oleh Wakil Ketua Askab Morut Usman Ukas, yang menyampaikan bahwa sejumlah program yang pernah dijanjikan saat masa pemilihan kini telah terealisasi. Di antaranya Liga Pelajar Askab Morut 2025.

“Kegiatan turnamen kali ini sangat luar biasa. Antusiasmenya tinggi, pemain datang dari berbagai daerah, termasuk Jawa dan Sulawesi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa menghidupkan kegiatan olahraga dapat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

“Dampak ekonominya juga terasa, UMKM hidup,” kata Usman sebelum membuka secara resmi rapat kerja tersrsebut.

Baca jugaPasangan Arief – Usman Pimpin Askab PSSI Morowali Utara

Ketua Askab PSSI Morut IM Arief Ibrahim, dalam pandangan umumnya menekankan bahwa menjadi pengurus Askab bukan sekadar memahami sepak bola, tetapi harus mampu membesarkansepak bola di daerah.

Ia menyampaikan lima misi utama organisasi yakni penataan sistem dan penguatan fondasi kelembagaan Askab yang modern dan profesional. Peningkatan SDM melalui pelatihan wasit, pelatih, dan pembinaan usia dini.

Menjadikan sepak bola sebagai sektor produktif bagi UMKM lokal. Penguatan kemitraan dengan pemerintah dan sektor swasta, termasuk industri tambang. Pengembangan infrastruktur sepak bola serta penguatan fungsi sosial olahraga.

Askab juga tengah menyiapkan berbagai program 2025-2026, termasuk Liga Pelajar Askab, kursus wasit, Open Tournament Askab, legalisasi klub-klub kecamatan, persiapan Porprov 2026, dan pembentukan sekolah sepak bola (SSB) di berbagai kecamatan.

Sesi pembahasan strategi dipandu oleh Ketua Komite Organisasi Asprov Sulteng Jasran, dan Direktur Teknik Asprov Sulteng Muhammad Agusman.

Dalam pengantarnya, Jasran menegaskan bahwa struktur organisasi Askab harus diperjelas untuk memudahkan perencanaan dan pelaksanaan program.

“Setiap kegiatan harus terdokumentasi. Kalau tidak masuk dalam program kerja resmi, maka tidak bisa diakui sebagai kegiatan Askab,”tegasnya.

Jasran memuji Askab Morut yang dinilai aktif, tertata, dan memiliki potensi besar. Ia menekankan bahwa ide-ide yang dibahas dalam rapat ini akan menjadi keputusan yang mengikat saat kongres nantinya.

ASPROV juga memberi arahan teknis terkait penyusunan kompetisi yang lebih sistematis di daerah itu. Model klasifikasi liga yang diusulkan meliputi Divisi Utama Morut diikuti klub anggota resmi Askab.

Kemudian Liga 2 Morut untuk klub yang belum terdaftar penuh namun ingin berkompetisi, turnamen terbuka Askab bagi seluruh anggota, serta kompetisi usia dini yang menjadi fokus penting pembinaan jangka panjang.

Baca jugtaPT GNI Kurangi Risiko Banjir di Dua Sekolah di Morowali Utara

Jasran mendorong Askab Morut menggelar kompetisi sendiri tanpa harus menunggu pusat, melalui skema off-on-off. Dengan cara ini, hasil kompetisi kabupaten dapat langsung dikirim ke provinsi, termasuk untuk keikutsertaan Morut pada Piala Soeratin.

“Soeratin dari Morowali Utara sangat mungkin tampil tahun depan, asalkan struktur dan kompetisi lokal berjalan,” ujarnya.

Jasran menegaskan bahwa SSB adalah akar pembinaan klub masa depan, sehingga perlu didukung dengan program dan regulasi yang konsisten.

Semenara itu Muhammad Agusman, menegaskan pentingnya pembinaan berjenjang dan terstandarisasi untuk mencetak pemain muda berprestasi di daerah.

Menurut Agusman, masyarakat selama ini masih salah kaprah dalam menyamakan akademi sepak bola dengan sekolah sepak bola (SSB). Padahal, keduanya memiliki standar dan tujuan pembinaan yang berbeda.

“Akademi dan SSB memang sama-sama membina pemain muda, tetapi standar akademi jauh lebih lengkap karena mempersiapkan pemain menuju level profesional,” ujar Agusman.

Agusman menjelaskan bahwa pembinaan usia dini mengacu struktur usia FIFA mulai U9 hingga U17–U18. Pemain baru dapat dikontrak secara profesional saat berusia 18 tahun ke atas.

“Kalau klub mengontrak pemain usia 17 tahun, itu pelanggaran. Mereka hanya boleh trial sampai usianya cukup,” tegasnya.

Lebih lanjut Agusman, akademi wajib memiliki fasilitas lengkap antara lain lapangan standar, dan pelatih berlisensi untuk tiap kelompok usia. Namun hingga kini belum ada yang memenuhi standar tersebut di Sulawesi Tengah.

“Ketua Asprov Hadianto Rasyid punya mimpi membangun akademi berstandar nasional. Kejar standar FIFA memang berat, tapi kita mulai,” ungkapnya.

Agusman menyebut ASIOP dan Akademi Pati sebagai rujukan nasional yang kerap menjadi destinasi pemain Sulteng, termasuk Dimas Adi Prasetyo, pemain U-17 Piala Dunia 2017 yang berasal dari Parigi Moutong.

Agusman mencontohkan perjalanan Dimas Adi Prasetyo dari SSB hingga ke kompetisi nasional.

“Ini membuktikan pentingnya proses. Setelah sempat mati suri, pembinaan di daerah kita mulai hidup kembali,” katanya.

Ia menargetkan dalam 3-4 tahun ke depan sudah terlihat hasil nyata pembinaan, terutama dari Kabupaten Morowali Utara.

Baca jugaKomnas HAM Ungkap Masifnya Galian C Donggala

Agusman menegaskan kewajiban legalitas agar SSB bisa mendapat dukungan pemerintah dan sponsor swasta. Saat ini terdapat 54 SSB terdaftar di Sulawesi Tengah.

Menurut Agusman, afiliasi ke PSSI sangat penting untuk menghindari pemain berpindah tanpa izin, yang lazim terjadi selama ini.

“Dengan afiliasi, semua perpindahan wajib persetujuan SSB asal. Tidak ada lagi istilah asal pakai pemain,” jelasnya.

Setiap pemain yang terdaftar akan memiliki Paspor Digital melalui Sistem Informasi Pemain (SIAP). Semua statistik seperti menit bermain hingga kartu akan tercatat otomatis.

Agusman menegaskan bahwa pembinaan bukan hanya untuk daerah, tetapi menjadi bagian dari kontribusi nasional.

“Kalau sistemnya rapi, talenta Sulteng bisa ke tim nasional. Itu target utama kami,” pungkasnya. (ham)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *