MORUT – Perang Wulanderi 1907 tercatat sebagai salah satu perlawanan terbesar rakyat Mori terhadap penjajahan Belanda di Sulawesi Tengah. Sosok Raja Mori, Mokole Marunduh Datu Ri Tana, gugur dengan gagah berani di Benteng Wulanderi pada 17 Agustus 1907, tepat 38 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Nama Mokole Marunduh Datu Ri Tana, tercatat sebagai sosok yang berani memilih jalan perlawanan hingga titik darah penghabisan di Benteng Wulanderi, 118 tahun silam.
Namun, di balik sejarah panjang ini, masih terdapat catatan keliru mengenai penyerangan ke Benteng Ensa Ondau dan Benteng Paantobu.
Arman Purnama Marunduh, keturunan Mokole Marunduh, meluruskan fakta sejarah yang sering disalahpahami.
Menurut Arman, Raja Mori saat penyerangan Benteng Ensa Ondau bukanlah Marunduh, melainkan Tosaleko, ayah Marunduh yang menjabat Mokole Petasia.
Sementara itu penyerangan oleh pasukan Belanda ke benteng Paantobu tidak pernah terjadi.
Baca juga: Arman Marunduh Lindungi TK-PAUD Korolama dari Banjir Lumpur
Arman menuturkan, perlawanan rakyat Mori terhadap kolonial Belanda dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Pada 1853, Belanda mengirim ekspedisi pertama ke Mori, namun gagal menundukkan kerajaan.
Tiga tahun kemudian, pada 1856, Gubernur Hindia Belanda di Maluku J.C.F. Goldman memimpin ekspedisi besar dengan 2.800 pasukan.
Belanda berhasil menggempur Benteng Ensa Ondau di sekitar Tinompo dan Korompeli pada 22 Juni 1856.
Meski berhasil merebut Ensa Ondau, Belanda gagal menundukkan Raja Tosaleko yang sudah mundur ke Matandau bersama para panglima dan rakyat. Sehingga Belanda tetap gagal menaklukkan Mori sepenuhnya.
“Saat penyerangan Benteng Ensa Ondau, Raja Mori adalah Tosaleko, Mokole Petasia yang juga ayah dari Marunduh,” ungkap Arman kepada wartawan, Minggu (17/8/2025).
Marunduh Menjadi Raja dan Menolak Diplomasi Belanda
Tahun 1870, Marunduh naik tahta sebagai Raja Mori. Berbagai upaya Belanda untuk berdamai ditolak. Pada 1890, Residen Ternate datang ke Towi-Sumara membawa misi persahabatan, namun Raja Mori kembali menolak.
Belanda lalu mengutus zendeling A.C. Kruyt pada 1899 untuk melakukan pendekatan budaya dan agama. Tetapi Marunduh menegaskan bahwa Mori tidak akan tunduk.
Tragedi 44 Tentara Belanda Gugur di Mori
Puncak ketegangan terjadi pada Juli 1907. Satu peleton Belanda di bawah pimpinan Lettu H.W. Mathews dan Letda B.E. Kies mendarat di Kolonodale.
Mereka berpatroli tanpa curiga. Namun prajurit Mori menyusun siasat, pura-pura berdamai lalu menyerang secara mendadak.
Pada 19 Juli 1907 di Matandau, sebanyak 24 tentara Belanda tewas akibat serangan prajurit Mori. Dua hari kemudian, 21 Juli 1907 di Ranaitole, 20 tentara Belanda kembali gugur.
Peristiwa ini menewaskan total 44 prajurit Belanda dan membuat kolonial Belanda semakin marah.
Perang Wulanderi, 17 Agustus 1907
Sebagai balasan, Gubernur Militer Belanda di Makassar, Jenderal Swart, memimpin langsung ekspedisi besar dengan tiga brigade pasukan Marsose.
Tanggal 16 Agustus 1907, mereka menaklukkan Benteng Duake (Impo) di Molongkuni. Benteng ini memang tidak dipersiapkan untuk pertahanan.
Keesokan harinya, 17 Agustus 1907, pasukan Belanda menyerbu Benteng Wulanderi, basis pertahanan Raja Marunduh. Pertempuran sengit berlangsung. Sekitar seratus prajurit Mori gugur.
Raja Marunduh, meski terluka, tetap berdiri gagah berseru kepada pasukannya “Mentumba halo ka aku monsuka” atau bertunas arang kalau kita menyerah; hidup-mati kita berkorban untuk Tanah Mori.
Peluru Belanda akhirnya menembus tubuhnya. Raja Marunduh gugur di Benteng Wulanderi pada 17 Agustus 1907, tepat 38 tahun sebelum tanggal itu diperingati sebagai Hari Proklamasi Indonesia. Pahlawan rakyat Mori ini kemudian menyandang gelar Mokole Marunduh Tawe i Wulanderi.
Setelah Wulanderi jatuh, Belanda melanjutkan operasi kembali ke Benteng Paantobu. Tidak terjadi perang, sebab melalui negosiasi, Paantobu menyerah.
“Sesungguhnya tidak terjadi perang di Paantobu pada 16 Agustus 1907 karena di hari itu juga pasukan Belanda menuju Benteng Wulanderi untuk menyerang Mokole Marunduh sehari kemudian,” imbuh Arman.
Peringatan Perang Wulanderi dan Warisan Sejarah Mori
Arman Marunduh yang juga Anggota DPRD Morowali Utara ini menyebut bahwa Perang Wulanderi sudah selayaknya diperingati setiap 17 Agustus.
Sebab peringatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Morowali Utara untuk mengenang perjuangan leluhur dalam melawan penjajahan.
Menurut Arman, lahirnya Kabupaten Morowali Utara tidak terlepas dari sejarah panjang eks-Kerajaan Mori sebagaimana tercantum dalam undang-undang pemekaran.
“Generasi sekarang harus sadar bahwa berdirinya kabupaten ini merupakan hasil perjuangan para pendahulu, terutama Mokole Marunduh Datu Ritana,” ujarnya.
Baca juga: Arman Purnama Marunduh Dorong Solusi Banjir dan Dukungan UMKM
Arman menegaskan, Mokole Marunduh merupakan tokoh penting yang memimpin rakyat Mori dalam Perang Wulanderi tahun 1907 melawan tentara Belanda. Meski gugur di medan pertempuran, keberaniannya menjadi simbol perlawanan rakyat Sulawesi Tengah terhadap kolonialisme.
Hingga kini, kata Arman, perjuangan menjadikan Mokole Marunduh sebagai pahlawan nasional masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Semoga peringatan ini menyadarkan kita semua, bahwa ada kebanggaan besar yang harus diwujudkan melalui pengakuan atas jasa Mokole Marunduh,” sebut Arman Marunduh. (ham)












