Berita

ISPA Menurun, Tapi Lingkar Tambang Morut Catat Ledakan Kasus

PUSARAN – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Morowali Utara (Morut) memang menurun dalam tiga tahun terakhir. Namun, puskesmas dan klinik di wilayah lingkar tambang justru mencatat kenaikan signifikan berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Dinkes Morut mencatat 13.226 kasus ISPA pada 2023. Angka itu turun menjadi 12.901 kasus pada 2024 dan kembali menurun menjadi 12.431 kasus pada 2025. Data ini menunjukkan penurunan akumulatif di tingkat kabupaten.

Di sisi lain, 4 dari 14 puskesmas justru mencatat kenaikan kasus ISPA pada 2024-2025. Puskesmas Kolonodale mencatat lonjakan dari 920 menjadi 1.342 kasus sementara Puskesmas Anutoluuwu meningkat dari 1.086 menjadi 1.400 kasus. Kedua puskesmas ini berada di kawasan lingkar tambang.

Baca jugaDebu Tambang Mengganas, DLH Morut Tegur 16 Perusahaan

Sedangkan Puskesmas Wongko Ndaya Lemo naik dari 364 menjadi 499 kasus, kemudian Puskesmas Pandauke melonjak signifikan dari 577 menjadi 978 kasus.

Selain data puskesmas, laporan klinik yang masuk ke Dinkes Morut menunjukkan perkembangan kasus ISPA yang cenderung meningkat sejak 2023 hingga 2025 dengan pola bulanan yang fluktuatif.

Klinik Afifa di Kolonodale, Klinik Khrisna, serta Klinik Stardust Estate Investment (SEI) di Desa Bunta tercatat sebagai penyumbang kasus ISPA tertinggi setiap tahun. Ketiga klinik tersebut berada di wilayah lingkar tambang.

Baca jugaPT GNI Kurangi Risiko Banjir di Dua Sekolah di Morowali Utara

Pada 2025, Klinik Afifa mencatat 3.189 kasus ISPA, Klinik Khrisna 2.707 kasus, dan Klinik SEI 1.395 kasus. Sementara Klinik Getsemani Tinompo relatif stabil dengan sekitar 1.000 kasus per tahun.

Data ISPA Awal 2026

Hingga 19 Januari 2026, tercatat 709 kasus ISPA dari klinik dan 598 kasus dari puskesmas. Kunjungan tertinggi terjadi di Puskesmas Beteleme (119 kasus), terendah di Wongko Ndaya Lemo (5 kasus).

Sejak 2025, Dinkes Morut memasukkan ISPA ke Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Lonjakan kasus paling sering muncul pada Januari-Februari dan Juni-Agustus.

Sumber Data Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali Utara.

Dinkes menilai peningkatan ISPA dipicu mobilitas tinggi, rendahnya PHBS, cuaca ekstrem, serta pencemaran udara. Meski muncul alert, ISPA Morowali Utara belum berstatus KLB.

Dinkes Morut mengimbau warga menerapkan PHBS, memakai masker saat sakit, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah juga mendorong kerja sama lintas sektor, termasuk perusahaan tambang, untuk menekan polusi udara. (ham)

Admin

Recent Posts

Belum Genap Setahun, Sport United Poboya Junior Langsung Jadi Juara Nasional

PUSARAN - Siapa sangka tim yang belum genap berusia satu tahun mampu menaklukkan klub-klub terbaik…

4 hari ago

Komunitas TAMEME Tembus Dusun Terpencil Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Sigi

PUSARAN - Di saat banyak bantuan terkonsentrasi di wilayah yang mudah diakses, Komunitas Jurnalis TAMEME…

2 minggu ago

Camat dan Lurah Siap Wujudkan Kota Palu Ramah Penyandang Disabilitas

PUSARAN - Puluhan Camat dan Lurah siap mewujudkan Kota Palu ramah penyandang disabilitas melalui penguatan…

2 minggu ago

Jam’iyyah SD Islam Al Azhar 63 Palu Salurkan Bantuan Korban Gempa Sigi

PUSARAN - Jam'iyyah SD Islam Al Azhar 63 Palu kembali menunjukkan kepedulian kemanusiaan dengan menyalurkan…

2 minggu ago

Mastam Mustaring Soroti Peran Koperasi, Dampak Investasi, hingga Kondisi Keuangan Daerah yang Sedang Sulit

PUSARAN - Ketua DPD PKS Morowali Utara (Morut), Mastam Mustaring, menegaskan pentingnya memperkuat peran koperasi…

2 minggu ago

Mahasiswa Pelaku Pembunuhan di Desa Era Ditangkap di Kolaka Timur

PUSARAN - Misteri kasus pembunuhan yang menggemparkan warga Desa Era, Kecamatan Mori Utara, Kabupaten Morowali…

2 minggu ago

This website uses cookies.