Sidak Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Kawasan Industri IMIP. (Foto: Dok KLH/BPLH)
MOROWALI – Menteri Lingkungan Hidup (LH) dan Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menemukan pelanggaran lingkungan serius saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kawasan Industri pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Sidak ini menyasar titik-titik krusial seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bahomakmur, area terdampak banjir di PT Obsidian Stainless Steel (ONI), dan unit smelter PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS). Kegiatan ini berlangsung dua hari, 29-30 Mei 2025.
Pemeriksaan lapangan mengungkap sejumlah praktik yang membahayakan lingkungan dan keselamatan warga sekitar. Mulai dari TPA Bahomakmur, Menteri Hanif menemukan praktik open dumping yang berisiko mencemari tanah dan air.
Kemudian di kawasan PT ONI, air banjir dialirkan langsung ke laut tanpa pengolahan limbah memadai. Ini menjadi sebuah pelanggaran serius terhadap standar lingkungan hidup.
Baca juga: PT Vale dan TNI AL Perkuat Sinergi untuk Hilirisasi Nikel Berkelanjutan
Sementara itu, PT ITSS tercatat memiliki 26 titik emisi, namun hanya sebagian kecil yang terpantau oleh sistem Continuous Emission Monitoring System (CEMS). Perusahaan ini pernah mengalami ledakan tungku pada Desember 2023 dan menewaskan 21 pekerja,
“Ini bukan hanya pelanggaran administratif. Ini menyangkut nyawa manusia dan masa depan lingkungan. Negara tidak akan tinggal diam,” tegas Menteri Hanif.
Menteri Hanif juga menyoroti praktik pembuangan slag nikel dan tailing yang tidak diawasi secara teknis. Ketidakteraturan ini meningkatkan risiko pencemaran logam berat di kawasan sekitar.
Dia bilang, negara tidak akan membiarkan pengabaian regulasi lingkungan berlangsung terus-menerus. Sebab, praktik itu bisa berdampak langsung terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat.
“Negara tidak boleh lengah. Kita hadir untuk memastikan bahwa keselamatan lingkungan dan manusia menjadi prioritas. Tidak boleh lagi ada bencana akibat abainya tata kelola industri terhadap lingkungan,” ujar Menteri Hanif.
Usai meninjau kawasan industri, Menteri Hanif turut mengunjungi desa-desa terdampak banjir di Desa Labota yang lokasinya berdekatan dengan wilayah operasi PT Walcin dan PT Kinriu.
Di sana, Menteri Hanif menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak lingkungan yang dirasakan langsung oleh warga. Ia menegaskan bahwa perusahaan yang terbukti lalai dalam pengelolaan lingkungan industri akan mendapatkan teguran keras hingga sanksi administratif.
“Jika industri tidak disiplin, rakyat yang menanggung akibatnya. Kami tidak ragu untuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran lingkungan,” ujarnya.
Pemerintah mengajak seluruh pelaku industri nikel di Morowali untuk menerapkan prinsip tata kelola lingkungan yang patuh terhadap regulasi dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang, bukan hanya keuntungan ekonomi jangka pendek.
Menteri Hanif juga mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan indikasi pencemaran lingkungan kepada pihak berwenang agar mereka dapat segera melakukan mitigasi bencana ekologis secara cepat dan efektif.
“Kepatuhan terhadap lingkungan bukan sekadar kewajiban hukum, tapi tanggung jawab moral kita bersama. Mari kita jaga bumi Morowali ini untuk masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutup Menteri Hanif. (*)
PUSARAN - PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) mempercepat pembangunan jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Morowali…
PUSARAN - Gubernur Sulteng Anwar Hafid mengajak masyarakat memperkuat kebersihan hati sebagai fondasi utama kehidupan.…
PUSARAN - PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) mengintensifkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan…
PUSARAN - Crane PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) membantu mengevakuasi mobil warga yang terjatuh ke…
PUSARAN - Pemkab Morowali Utara (Morut) mengakui keterlambatan pencairan hibah partai politik untuk Partai Gerindra…
PUSARAN - DPC Partai Gerindra Kabupaten Morowali Utara (Morut) menggelar kegiatan berbagi takjil Ramadan 1447…
This website uses cookies.