PUSARAN – Ustaz Ruslan Demanto mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam kesombongan, meskipun memiliki jabatan, kekayaan, dan kedudukan sosial yang tinggi.
Penceramah kondang dan ulama asal Gorontalo yang populer karena gaya ceramahnya yang kocak dan energik itu menegaskan bahwa kualitas ibadah seseorang harus tercermin melalui perubahan karakter dan akhlak, bukan sekadar penampilan religius.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Ruslan Demanto dalam acara istighosah, doa, dan zikir bersama yang dirangkaikan dengan peresmian Grand Berlian Mamala (GBM) di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sabtu (31/10/2026).
Baca juga: Ribuan Orang Hadiri Istighosah dan Peresmian Grand Berlian Mamala
Kegiatan yang diinisiasi keluarga besar Ketua DPRD Morowali Utara, Hj. Warda Dg Mamala, bersama masyarakat Kolonodale dan sekitarnya itu berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan orang.
Dalam ceramahnya, Ruslan mengajak jamaah memahami bahwa seluruh kehidupan, jabatan, kekayaan, dan kehormatan manusia hanyalah titipan Allah SWT. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa paling hebat, paling penting, atau selalu ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.
“Jangan pernah merasa ada, atau ingin dianggap ada, dan jangan pernah merasa penting sekalipun kita dianggap penting,” demikian pesan yang ditekankan dalam ceramah tersebut.
Baca juga: Kader Golkar Mamosalato Dorong Warda Maju Bupati
Menurut Ruslan, kesombongan sering muncul ketika seseorang memperoleh kedudukan lebih tinggi. Perubahan status terkadang membuat seseorang ikut mengubah cara berbicara, berjalan, hingga memperlakukan orang lain.
Dia mengingatkan bahwa jabatan dan kekayaan tidak seharusnya membuat seseorang menjaga jarak dengan masyarakat. Sebaliknya, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk mempertahankan kerendahan hati.
Ruslan juga mengajak jamaah tidak membeda-bedakan orang berdasarkan jabatan, pekerjaan, maupun kondisi ekonomi.
Baca juga: Konsolidasi Golkar Morowali Utara Hampir Rampung
Dia bilang, setiap orang harus tetap menghormati sesama, termasuk melalui kebiasaan sederhana seperti memberikan senyuman ketika bertemu.
“Bila diri ingin terpandang, jauhi kata tinggi melambung. Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu, ribut sekampung,” imbuh Ruslan melantunkan syair petuah orang tua ciptaan maestro musik melayu H. Ahmad Baqi.
Selain mengingatkan bahaya kesombongan, Ruslan memberikan perhatian khusus kepada umat Islam yang mulai aktif mengikuti kegiatan keagamaan, majelis taklim, dan memperbanyak ibadah.
Baca juga: Rustam Wiyono Terpilih Pimpin Golkar Mamosalato
Dia menegaskan bahwa ukuran kesalehan tidak terletak pada pakaian, panjang jenggot, tanda hitam di dahi, maupun atribut keagamaan lainnya.
“Ibadah itu harus mampu merubah karakter, bukan merubah tampilan,” tegasnya.
Menurut Ruslan, seseorang bisa saja terlihat sangat religius di hadapan manusia, tetapi belum tentu memiliki akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Liga Pelajar ASKAB PSSI Morut Berakhir, Talenta Muda Siap Bersaing ke Porprov X
Dia mengingatkan bahwa ibadah yang tidak menghasilkan perubahan perilaku justru dapat menjadi bumerang bagi pelakunya. Sebab, kesalehan seharusnya terlihat melalui kejujuran, kepedulian, kemurahan hati, serta sikap menghormati orang lain.
Ruslan juga mengingatkan jamaah agar tidak merasa paling suci atau paling saleh hanya karena rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan masjid.
“Jangan merasa paling suci di hidup. Karena Allah yang lebih tahu siapa yang paling bagus di hidup,” pesannya.
Baca juga: PT GNI Kolaborasi Perbaiki 948 Meter Jalan Nasional
Dia menggambarkan bahwa orang yang tampil sederhana bisa saja memiliki kualitas kesalehan lebih baik di hadapan Allah SWT dibandingkan orang yang terlihat sangat religius, tetapi perilakunya tidak mencerminkan ajaran agama.
Ruslan turut mengingatkan bahwa ibadah harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial. Jangan sampai seseorang rajin menjalankan salat dan berbagai amalan, tetapi masih enggan membantu atau berbagi dengan sesama.
Dia menggambarkan kerugian seseorang yang menghabiskan waktu untuk beribadah, tetapi tidak memperbaiki perilakunya. Dalam perumpamaan yang disampaikan, amal ibadah yang tidak disertai keikhlasan dan perbaikan akhlak dapat menjadi seperti debu yang beterbangan.
Baca juga: Warda Ingatkan Kader Golkar Morut di DPRD dan Desa Tak Lupa Warga
Karena itu, dia mengajak jamaah menjadikan ibadah sebagai jalan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperbaiki hubungan antarmanusia.
Dalam ceramah tersebut, Ruslan juga menyampaikan pesan khusus kepada para ustaz, imam, dan pengurus masjid agar memberikan ruang lebih luas kepada generasi muda dalam kegiatan keagamaan.
Menurutnya, urusan agama tidak boleh terkesan hanya menjadi tanggung jawab kalangan orang tua. Generasi muda perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar, memimpin, dan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan masjid.
Baca juga: Warda Mamala Dorong Kader Perempuan Golkar Aktif Berpolitik
Dia mengusulkan pembagian jadwal imam antara kalangan orang tua dan anak muda. Imam senior tetap mendapatkan peran, sementara generasi muda diberi kesempatan menjadi imam pengganti atau memimpin kegiatan ibadah lainnya.
Ruslan menjelaskan bahwa keterlibatan anak muda dapat menghadirkan semangat, kreativitas, dan kemampuan baru dalam aktivitas keagamaan.
Dia mencontohkan pelaksanaan takbir, pembacaan basmalah, serta doa tahlilan. Generasi muda dapat memberikan energi dan kejelasan bacaan sehingga jamaah lebih mudah mengikuti rangkaian ibadah.
Baca juga: Golkar Morut Bidik Kursi Bupati 2030
Menurut Ruslan, pembagian peran tersebut bukan untuk mengurangi penghormatan kepada orang tua, melainkan mempersiapkan regenerasi kepemimpinan keagamaan agar masjid terus berkembang.
Melalui ceramah tersebut, Ustaz Ruslan Demanto mengajak masyarakat membangun kehidupan beragama yang tidak hanya kuat dalam ritual, tetapi juga tercermin melalui akhlak, kerendahan hati, kepedulian sosial, dan keterlibatan seluruh generasi. (ham)












